Bangun pagi, hal pertama yang harus aku lakukan adalah mengucap syukur kepada Tuhan atas hari baru yang Dia anugerahkan. Kubaca 5 pasal pendek di kitab Mazmur. Pikiran melayang akan banyak hal yang mesti dikerjakan. Coba saja bangun lebih pagi.....hmm menghela nafas panjang untuk memulai babak kehidupan.
Kurebus sayuran dengan harapan segera mendapatkan rejeki lewat resto online berjualan pecel. Sembari bersiap- siap absen pagi dan membuka gmeet. Sekilas kulihat beberapa sahabat belajar sudah japri minta diizinkan join room. Ini terjadi karena aku terlambat masuk room.
Setelah membahas 5 soal dan memberi tugas aku langsung bergegas memetik bayam dan kangkung di tanah tak bertuan. Tak serimbun hari yang lalu, pikirku. Kini kangkung- kangkung muda itu berlumuran lumpur. Tapi tak mengapa, lanjutku.
Pagi yang lelah....dilanjutkan menggoes sepeda ke pasar untuk belanja buah. Ha?? Ternyata sudah jam delapan lebih. Suami sudah bersiap- siap berangkat. Namun, lagi-lagi aku harus memasak dulu untuk bekal kedua buah hatiku yang masih harus kutitipkan di warung bibinya.
Ternyata masih ada lagi yang mengganjal. Walau sudah kesiangan, naluri ibu dalamku memaksa agar menyuapi si bungsu dulu yang belum sempat sarapan pagi. Alhasil kami berangkat dari rumah pukul 10.
Tiba di warung Aralia, ultimatum diluncurkan kepada kedua anakku. Berharap mereka jadi anak yang manis dan tidak menyusahkan bibi dan kilanya.
Hampir setengah dua belas tiba di kantin. Kecewa rasanya karena sayuran yang direbus ketinggalan. Belum lagi orderan grab yang dicancel karena belum ready. Sayang sekali rasanya
Beberapa item belanjaan terlupa sehingga suami harus mondar- mandir belanja sampai akhirnya dia k
kelelahan. Aku dan kakak yang membantu di kantin juga lelah karena orderan lumayan banyak. Soto ayam, soto tangkar, pecel madiun, kwetiau dan aneka jus melejitkan omset kami hari ini.
Terima kasih Tuhan....
Lelah yang terbayarkan.
Satu hal yang pasti, semua karena AnugerahMu Tuhan. Terima kasih